Tampilkan postingan dengan label hanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hanya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Februari 2014
Syed Ali Kit Siang hanya main wayang

Syed Ali Alhabshee
SHAH ALAM – Kenyataan Penasihat DAP, Lim Kit Siang semalam yang menafikan dakwaan melibatkan Pengerusi parti itu, Karpal Singh berhubung cadangan membatalkan pendaftaran Pas itu disifatkan sebagai main wayang.
Menurut Ketua Umno Bahagian Cheras, Datuk Seri Syed Ali Alhabshee, penafian itu dibuat setelah kenyataan Karpal mendapat kritikan pelbagai pihak termasuk rakan karibnya, Pas.
“Kit Siang cuba bermain wayang setelah cadangan tidak masuk akal Karpal disifatkan banyak pihak sebagai tidak relevan dan usaha menghapuskan identiti Melayu dan umat Islam," katanya yang dipetik dari blognya, hari ini.
Syed Ali melihat cadangan Karpal yang juga Ahli Parlimen Bukit Gelugor sebagai pancing DAP untuk melihat sejauh mana reaksi dan penerimaan masyarakat berhubung perkara tersebut.
Beliau turut mencabar Pas supaya segera meninggalkan PR jika benar bahawa parti itu masih mempunyai prinsip dan maruah selaku parti yang memperjuangkan kepentingan umat Islam.
"Jika pemimpin Pas masih juga seperti tunggul kayu, samalah mereka dengan Kit Siang dan Karpal yang bermain wayang.
"Saya cabar Pas supaya tinggalkan DAP dan PKR jika mereka benar-benar sayangkan kepada masa depan orang Melayu dan umat Islam di negara ini," katanya.
Sebelum ini, beberapa pimpinan Pas tampil membidas kenyataan Karpal yang mencadangkan parti politik atau persatuan yang berasaskan kaum dan agama dibatalkan pendaftaran atau diubah suai agar boleh disertai oleh semua rakyat tanpa mengira kaum dan agama.
Turut terbuka membidas, Pemuda Pas Selangor yang mendesak agar Karpal menarik balik kenyataan yang disifatkan biadab itu.
Sementara itu, Karpal dalam satu kenyataan hari ini, menafikan beliau mencadangkan pendaftaran Pas dibatalkan.
"Saya tidak meminta pembatalan pendaftaran Pas.Ya, saya telah menyatakan bahawa parti-parti politik berasaskan kaum dan badan-badan profesional perlu membuka ruang kepada kaum-kaum lain termasuk Pas.
"Bagaimanapun, saya turut mengakui keperluan Pas dalam masyarakat berbilang kaum yang turut mempunyai sayap penyokong bukan Islam," katanya.
Kamis, 30 Januari 2014
Abu Nawas Penyair Jenaka ini Bukan Hanya Sekedar Dongeng
Cerita 1001 malam sangat melegenda seantero dunia. Salah satu tokohnya yang terkenal, Abu Nawas disebut-sebut sebagai orang yang sangat pintar dan penuh akal. Kisahnya yang terkadang aneh menimbulkan pertanyaan, apakah Abu Nawas hanya rekaan dongeng semata?
Abu Nawas benar-benar tokoh yang pernah hidup di bawah pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah). Nama aslinya Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 Hijriah [756 M dan meninggal 814 M] di Kota Ahvaz di negeri Persia (Iran).

Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sayang, ayahnya cepat berpulang sehingga Abu Nawas menjadi yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Yaqub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Saad as-Samman.
Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.
Penyair khamar. Begitu Abu Nuwas dijuluki sebagian orang, karena dia mengangkat minuman haram sebagai tema puisinya. Dalam puisi khumrayat, ia menggambarkan kelezatan dan keburukannya, pemerasan, pengolahan, rasa, warna, dan baunya hingga para peminumnya. Menurutnya, khamar dapat menenangkan hatinya yang gundah.
Abu Nuwas juga sempat dituding sebagai penyair zindik atau pendosa besar gara-gara puisinya yang sering dianggap melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.
Walau demikian, Abu Nawas dikenal sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana,shaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (syairul bilad).
Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.
Masuk penjara
Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.
Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.
Langganan:
Postingan (Atom)